BUKAN tumblr |
memang bukan sebuah tumblr |
the Sparkling Fixies diambil dengan standard Samsung Galaxy Mini GT5570 camera + PicsayPro
Pernah mereka bilang bahwa sesungguhnya Alien itu tiada lain adalah kerabat dekat manusia. Bukan. Ini bukan masalah pengkerabatan spesies per spesies dalam satu famili atau genus seperti halnya hyena dan kucing hutan, tikus got dan kelelawar penghisap darah, manusia purba dan orang utan. Sama sekali bukan.
Mereka bilang bahwa manusia di masa depan akan dijejali banyak rincian ilmu pengetahuan sehingga volume otaknya pun akan ikut membesar.
Lantas mereka bilang bentuk kepala manusia di masa depan akan persis sama dengan bentuk kepala makhluk luar angkasa dalam kisah-kisah.
Mereka fikir bukan tidak mungkin makhluk tersebut adalah manusia masa depan itu sendiri. Dan segala bentuk penampakan keberadaan alien di masa kini adalah kunjungan mereka melalui Time Machine, lipatan dimensi.
Mereka hanya bilang: mungkin saja.
Dan saya bilang, cukup menarik.
“Bukan tuhan yang kamu cari, tapi carilah jawaban mengapa kamu bodoh mencari yang sudah bersamamu” — the Pidibaiq
“Tuhan ada di mana?” adalah sepotong pertanyaan yang dapat mengganggu keharmonisan hubungan antar semesta di muka bumi ini. Tak percaya? Begitulah!
Tidak habis pikir bagi saya mengapa perdebatan tentang keberadaan Tuhan hingga detik ini seolah-olah menjadi salah satu alasan pembenar dari sebuah kelompok untuk menjatuhkan dan mencaci kelompok yang lain. Satu kelompok mengklaim bahwa Tuhan ada di atas langit. Satu lagi meyakini Tuhan ada di mana-mana. Yang lain percaya Tuhan berada di dalam hati setiap insan.
Lebih seru lagi, literatur yang digunakan sebagai dasar kepercayaan masing-masing kelompok pun tidak luput dari bahan jatuh-jatuhan. Kelompok pertama yang mengambil referensi dari kutipan ayat Kitab Suci menentang keras keterbatasan akal. Kelompok berikutnya menggunakan nalar logika akal fikiran, yang dikatakan olehnya merupakan hasil pemberian Tuhan itu sendiri, dan menganggap bodoh kepercayaan buta tanpa logika yang merdeka. Kelompok yang lain merangkum semuanya, mengambil jalan tengah, lalu menyimpulkan.
Perkara empat kata “Tuhan ada di mana?” kelamaan menjadi perdebatan sengit di meja diskusi ilmiah dan teolegis. Masing-masing percaya argumentasinya paling hebat. Yang tak percaya silakan masuk neraka. Namun satu hal sederhana mungkin sering terlupa dalam hati kita: Tuhan tidak pernah seperti bayangan kita. Bahkan menyerupai pun tidak.
Lantas, di mana Tuhan sebenarnya berada?
Dia tidak berada, dan Dia tidak di mana.
Tuhan menciptakan alam semesta dan segala isinya yang meliputi dimensi ruang dan waktu. Perkara keberadaan dan di sebelah mana Tuhan bersemayam, pada akhirnya hanya upaya akal fikir manusia untuk berusaha menyumpalkan Tuhan pada makhluk ciptaan-Nya sendiri: dimensi tempat. Tuhan yang menciptakan dimensi. Bukan Tuhan yang terjebak dalam dimensi. Pertanyaan ‘ada dimana’ menjadi tidak relevan jika objek pembicaraan menyangkut Dzat yang menciptakan sendiri dimensi keber-ada-an. Menjadi ironis mengingat segala perdebatan tentang keberadaan Tuhan tidak habis-habis bukan karena jawabannya yang benar atau salah, namun pertanyaannya yang tidak relevan.
Pertanyaan berikutnya lalu hadir, bagaimanakah sesungguhnya kehidupan tanpa dimensi? Sebagai makhluk berdimensi, akal manusia mentok sampai di sini. Buntu. Perkara ini terlalu rumit bagi jagad ilmu pengetahuan, setidaknya hingga saat ini. Satu-satunya hal yang mampu diterima akal manusia adalah dengan melogikakan hal yang tidak logis dengan pendekatan-pendekatan yang menyerupai dan masuk akal. Selalu ada sisa ruang kosong di sana. Ruang yang belum memiliki jawaban yang memuaskan. Dan pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab ini menggiring manusia kepada sebuah kesimpulan universal: kesadaran akan keterbatasan dan totalitas penyerahan diri di hadapan Tuhan.
the Pidibaiq
Kita telah sepakat untuk mengategorikan masing-masing dimensi ke dalam bidang tertentu:
Dimensi nol adalah sebuah titik.
Dimensi satu adalah titik yang ditarik ke axis tertentu menjadi sebuah garis.
Dimensi dua adalah garis yang ditarik ke axis tertentu menjadi sebuah luasan.
Dimensi tiga adalah luasan yang ditarik ke axis tertentu menjadi sebuah ruangan.
Dimensi empat adalah ruangan yang ditarik ke axis tertentu menjadi sebuah hal yang kita belum mengetahuinya.
Manusia hanya hidup dalam dimensi tiga, yang mencakup pula dimensi-dimensi di bawahnya. Hal ini membuat segala perkara di dimensi di atas dimensi tiga menjadi sebuah absurditas yang belum mampu dijelaskan oleh akal fikiran dan ilmu pengetahuan. Sesuatu yang kerap diistilahkan sebagai hal ghaib.
Sebuah pertanyaan pernah muncul di benak saya. Apakah konsep paralelisme juga terjadi pada kehidupan lintas dimensi?
Misalnya, pada sebuah luasan di dimensi dua kita lipat mengarah kepada arah axis dimensi tiga. Maka bagi pihak lain yang berada di dimensi dua di samping benda terlipat tersebut, sepenggal bagian yang terlipat menjadi menghilang.

Lantas, apabila misalnya ada makhluk berdimensi empat yang melakukan lipatan yang sama pada bagian tubuh manusia ke arah axis dimensi empat, akankah kita akan menjumpai sebuah bagian tubuh manusia yang menghilang?
Sepotong teori, baik yang diucapkan oleh seorang filsuf terkemuka atau yang hanya terbesit di alam fikir kita, pada kenyataannya hanya terdiri dari dua pokok: Kesimpulan dan Alasan Pembenar.
Tidak ada yang menjamin bahwa kesimpulan sebuah teori harus selalu benar. Tidak. Ungkapan ‘benar’ menjadi benar-benar ‘benar’ saat sang pembuat teori mampu memaparkan sebuah Alasan Pembenar dengan benar.
Sedangkan Alasan Pembenar itu sendiri sebenarnya adalah kumpulan relativitas tentang unsur-unsur sains, demografi, sosial, dan kepercayaan umum, yang mana merupakan kumpulan teori-teori yang sebelumnya telah dianggap benar, sehingga mendukung dan menyimpulkan sebuah Kesimpulan untuk menjadi kemudian dianggap benar.
Lihatlah, bahkan membicarakan hal-hal mengenai teori ini sesungguhnya tiada lain hanyalah membuat sebuah teori baru mengenai teori. Ya, Teori tentang teori.
the Monumen Nasional
diambil dengan standard Samsung Galaxy Mini GT5570 camera + PicsayPro